AKIDAH
AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH
Berikut ini kita akan
membahas metode al-Asy’ariyah dalam hal mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya.
Sifat yang wajib bagi
Allah.
1.
Al-Wujud
Allah
itu ada, wujud-Nya tidak ada permulaan dan tidak ada penghabisan. Sebelum ada alam
ini Allah telah ada. Pada waktu alam ada, Allah telah dalam keadaan wujud, dan
pada saat alam ini tidak ada lagi,Allah tetap dalam keadaan ada. Wujud allah
itu tidak sama dengan wujud yang ada pada alam ini. Contohnya manusia dan hewan pada awalnya tidak ada, kemudian melalui
proses tertentu, dalam waktu ternentu akan kembali dalam keadaan fana / tidak
ada, seperti sebelum ada. Oleh karenya alam beserta isinya bersifat baharu, dan
karena sifat itu baharu, maka alam itu selalu menuntut pada penciptanya, yang
memeliharanya setelah ada dan yang aka memusnahkanya nanti.
Disinilah
anatar lain terdapat perbedaan antara wujud Allah dan wujud pada makhluk atau
alam semesta.namanya sama akan tetapi hakikatnya tidak sama. Menyangkut dengan
wujud Allah berfirman ; (Q.S Ali imran :18 ).
2.
Al-Qidam
Qidam
adalah wujud yang tiada permulaan, artinya wujud Allah tidsk didahului oleh
adam(tiada). Sebelum ada sesuatu kecuali Allah, Allah itu telah ada. Wujud
Allah tidak terkait dengan jaman, sebab jamn itu ciptaan Allah, sebelum wujud
jaman Allah telah ada. Wujud Allah tidak terkait dengan tempat, artinya wujud
Allah tidak berada dalam tempat, sebab Allah tidak berada dalam tempat dan
tidak merada dalam jaman. Terkait dengan sifat Qidam ini, Allah berfirman :
(Q.S Asy-Syura’ :11).
3.
Al-Baqa’
Baqa’
adalah kekal, wujud yang tiada diiringi
dengan tiada, artinya berkekalan wujud pada masa yang akan datang dalam bentuk
yang tiada penghabisan. Mengapa allah bersifat baqa’? pertama, apabila wujud Allah diakhiri dengan adam,maka Allah itu
baharu (berubah-ubah), apabila Allah baharu, maka Allah butuh kepada yang
menjadikanya, atau butuh kepada yang meniadakanya. Kedua, apabila hal tersebut terjadi, maka semua benda yang ada
dalam alam ini termasuk manusia tidak ada, sebab kekuatan qudrah Allah sudah
sama dengan qudrah makhluk. Apabila terdapat dua kekuatan yang sama pasti tidak
terjadi sesuatu sebab satu ingin menjadikan satu ingin memusnahkan. Kenyataan
yang kita lihat bahwa alam ini berdiri dengan kokohdan terisusun dengan rapi,
ini tidak mungkin terjadi apabila tidak ada penciptanya yang tidak sama dengan
hasil ciptaanya. Dalam hal ini Allah
berfirman dalam Al-qur’an (Q.S Ar-rahman : 26-27 ).
4.
Mukhalifatuhu Lil Hawadits
Mukhalifatuhu
Lil Hawadits adalah perbedaan Allah dengan semua benda, baik yang telah ada
atau yang akan ada. Perbedaan Allah dengan hawadits (baharu) adalah dalam tiga
hal :
·
Perbedaan
pada zat, yaitu zat Allah tidak sama dengan zat makhluk. Zat
Allah hanya satu : yaitu tidak tersusun / dirangkap dari dua benda atau lebih,
tidak terdiri dari atas berbagai macam anggota, deperti kepala, tangan, kaki,
dan lainya.
·
Perbedaan
pada sifat, Allah berbeda dengan makhluknya, kenyataanya
makhluk memiliki sifat yang dilaluinya dari masa muda hingga ketua renta dan
tidak berdaya.
·
Perbedaan
sifat af’al (perbuatan)
Kejadian
gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 di NAD yang merenggut 200.000
lebih jiwa manusia, merusak rumah serta bangunan yang kokoh dan merusak kebun dan
lainya, merupakan bukti nyata bahwa kerja Allah tidak sama dengan kerja manusia
Dalam hal ini Allah
berfirman dalam Al-qur’an, (Q.S Yasin : 81-82).
5.
Qiyamuhu bi Nafsihi
Qiyamuhu
bi Nafsihi berarti Allah berdiri sendiri. Allah tidak membutuhkan kepada tempat
untuk berdiri, sebab : pertama, bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam ini,
termasuk tempat adalah benda yang datang wujudnya setelah didahului oleh tiada.
Sedangan Allah itu telah ada sebelum ada tempat tersebut. Kedua, bahwa yang
membutuhkan kepaa tempat adalah sifat, seperti gerak, tetap , hitam, putih, dan
semua benda yang tidak terbayangdalam pikiran manusia, adanya tanpa bertempat
berdirinya. Sesuai dengan firman Allah (Q.S Al-ikhlas ).
6.
Al-Wahdaniyah
Yang
berarti (Esa Allah) terdiri dari tiga hal. Pertama,
zat Allah tidak tersusun dari dua komonem atau lebih. Hal ini dinamai Esa
Allah pada zat-Nya, kedua, tiada terdapat
dan tiada mungkin ada seseorang atau benda yang sama dengan Allah pada zat-Nya
atau pada satu sifat diantara sifat-sifat yang wajib pada-Nya. Ketiga, tunggal Allah dalm menjadikan
sesuatu benda dan menjadikan semua barang dalam alam ini dan Allah tunggal
dalam menjadikan sesuatu dengan sempurna. Pekerjaan Allah tidk membutuhkan peralatan dan tidak
membutuhkan gerak atau tetap, tidak ada yan dapat memberikan bekas dan
menghasilkan sesuatu dalam bentuk apapun kecuali Allah.
Dalam hal ini Allah
berfirman ; (Q.S Al-Qamar :49), (Q.S Al-Baqarah : 107 ), dan (Q.S Ash-Shafat :
96).
7.
Al-Qudrah
Yang
berarti berkuasa, Allah yang berkuasa untuk
menjadikan barang yang mungkin terjadi dan meniadakan barang yang telah ada,
dan mungkin tiada lagi. Hal ini sesuai dengan firman Allah (Q.S Ash-Shafat :
96), (Q.S Ar-Rum : 22).
8.
Iradah
Adalah
sifat yang menetapkan (menentukan) terjadi satu antara dua kemungkinan yang
berlawanan .
9.
Al-Ilm
Adalah
sifat Allah yang maha mengetahui segala sesuatu secara detail, Allah mengetahui
segala sesuatu yang terjadi, masa kejadian, bentuk kejadian, jangka waktu
terjadi, dan besar atau kecil nya sesuatu yang terjadi, Ilm Allah tidak sama
dengan dengan ilmu manusia, perbedaanya antara lain:
·
Allah mengetahui segala sesuatu secara
pasti
·
Ilmu Allah itu meliputi lahir dan batin
·
Allah mengetahui yang akan terjadi, dan
yang telah terjadidalam tempat atau jaman tertentu. Dll
10. Al-hayah
Adalah
Allah bersifat hidup, yang berrati Allah itu hidup dan tidak mati tidak sama
dengan kehidupan dengan makhluknya, karena makhluk yang hidup sekarang pasti
akan menjumpai yang namnya kematian, sedangkan Allah hidup untuk selama-lamanya
yang tiada akhirnya.
11.As-Sama’
Yang
berrati Allah maha mendengar, tidak sama dengan pendengaran manusia
makhluk-Nya, perbedaanya :
·
Allah mendengar tiap-tiap yang ada, baik
yang bersuara maupun yang tidak bersuara, sedangkan manusia hanya dapat
mendengarkan yang bersuara, yang bukan suara tidak dapat didengar oleh manusia.
·
Pendengran Allah tidak dapat dihalangi
oleh penghalangan apapun, sedangkan pendengaran manusia dapat dihalangi oleh
kejauhan, keributan, dan besar kecilnya sumber suara tersebut, dan tidak dapat
mendengar suara dalam keadaan tidak sadar.
·
Sifat mendengar Allah tidak bertempat
pada suatu jaman, sebab sebelum jaman itu belum ada Allah sudah memilki
pendengara-Nya. Sedangkan pendengeran manusia seiring dengan jaman.
12.Al-Bashr
Adalah
Allah maha melihat pada suatu barang itu ada atau tidak,, besar atau kecil, dan
sangat tersimpan/tersembunyi di suatu tempat tertentu sekalipun Allah tetap
melihatnya, bahkan yang terlintas di dalam hati manusia. Sesuai dengan firman
Allah dalam (Q.S Ali-Imran : 5) dan (Q.S Al-An’am :103)
13.Al-Kalam
Yang
berarti Allah berkata-kata/berbicara, kalam Allah tidak memiliki huruf dan
tidak memiliki suara serta tidak ada yang terakhir. Kalam Allah tidak
terpecah-pecah dalam huruf dan kalimat. Kalam Allah hanya satu dan tidak
banyak, bentuk kalam Allah ada tiga makna, diantaranya “ Buku yang di dalamnya
di tulis lafazh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW”. Ketiga makna
tersebut disebut kalamullah dan Al-qur’an. Kalamullah (lafazh) ang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. Dan ditulis dalam mushhaf Al-qur’an adalah lambang
dari apa yang ditunjuk oleh kalam Allah.
14.Al-Qadirun
15.Al-muridun
16.Al-a’limun
17.Al-hayyun
18.As-sami’un
19.Al-bashirun
20. Al-mutakallimun
Tujuh
sifat terakhir yang di atas tersebut dinamai dengan sifat ma’nawiyah, sebab
antara tujuh sifat sebelumnya berhubungan. Maka sifat ini dibangsakan kepada
sebelumnya, yaitu tujuh sifat ma’ani.