Senin, 15 September 2014

sifat wajib bagi Allah



AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH
Berikut ini kita akan membahas metode al-Asy’ariyah dalam hal mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya.
Sifat yang wajib bagi Allah.
1.     Al-Wujud
Allah itu ada, wujud-Nya tidak ada permulaan dan tidak ada penghabisan. Sebelum ada alam ini Allah telah ada. Pada waktu alam ada, Allah telah dalam keadaan wujud, dan pada saat alam ini tidak ada lagi,Allah tetap dalam keadaan ada. Wujud allah itu tidak sama dengan wujud yang ada pada alam ini. Contohnya manusia dan hewan  pada awalnya tidak ada, kemudian melalui proses tertentu, dalam waktu ternentu akan kembali dalam keadaan fana / tidak ada, seperti sebelum ada. Oleh karenya alam beserta isinya bersifat baharu, dan karena sifat itu baharu, maka alam itu selalu menuntut pada penciptanya, yang memeliharanya setelah ada dan yang aka memusnahkanya nanti.
Disinilah anatar lain terdapat perbedaan antara wujud Allah dan wujud pada makhluk atau alam semesta.namanya sama akan tetapi hakikatnya tidak sama. Menyangkut dengan wujud Allah berfirman ; (Q.S Ali imran :18 ).
2.     Al-Qidam
Qidam adalah wujud yang tiada permulaan, artinya wujud Allah tidsk didahului oleh adam(tiada). Sebelum ada sesuatu kecuali Allah, Allah itu telah ada. Wujud Allah tidak terkait dengan jaman, sebab jamn itu ciptaan Allah, sebelum wujud jaman Allah telah ada. Wujud Allah tidak terkait dengan tempat, artinya wujud Allah tidak berada dalam tempat, sebab Allah tidak berada dalam tempat dan tidak merada dalam jaman. Terkait dengan sifat Qidam ini, Allah berfirman : (Q.S Asy-Syura’ :11).
3.     Al-Baqa’
Baqa’ adalah kekal,  wujud yang tiada diiringi dengan tiada, artinya berkekalan wujud pada masa yang akan datang dalam bentuk yang tiada penghabisan. Mengapa allah bersifat baqa’? pertama, apabila wujud Allah diakhiri dengan adam,maka Allah itu baharu (berubah-ubah), apabila Allah baharu, maka Allah butuh kepada yang menjadikanya, atau butuh kepada yang meniadakanya. Kedua, apabila hal tersebut terjadi, maka semua benda yang ada dalam alam ini termasuk manusia tidak ada, sebab kekuatan qudrah Allah sudah sama dengan qudrah makhluk. Apabila terdapat dua kekuatan yang sama pasti tidak terjadi sesuatu sebab satu ingin menjadikan satu ingin memusnahkan. Kenyataan yang kita lihat bahwa alam ini berdiri dengan kokohdan terisusun dengan rapi, ini tidak mungkin terjadi apabila tidak ada penciptanya yang tidak sama dengan hasil ciptaanya. Dalam hal ini  Allah berfirman dalam Al-qur’an (Q.S Ar-rahman : 26-27 ).


4.     Mukhalifatuhu Lil Hawadits
Mukhalifatuhu Lil Hawadits adalah perbedaan Allah dengan semua benda, baik yang telah ada atau yang akan ada. Perbedaan Allah dengan hawadits (baharu) adalah dalam tiga hal  : 
·         Perbedaan pada zat, yaitu zat Allah tidak sama dengan zat makhluk. Zat Allah hanya satu : yaitu tidak tersusun / dirangkap dari dua benda atau lebih, tidak terdiri dari atas berbagai macam anggota, deperti kepala, tangan, kaki, dan lainya.
·         Perbedaan pada sifat, Allah berbeda dengan makhluknya, kenyataanya makhluk memiliki sifat yang dilaluinya dari masa muda hingga ketua renta dan tidak berdaya.
·         Perbedaan sifat af’al (perbuatan)
Kejadian gelombang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 di NAD yang merenggut 200.000 lebih jiwa manusia, merusak rumah serta bangunan yang kokoh dan merusak kebun dan lainya, merupakan bukti nyata bahwa kerja Allah tidak sama dengan kerja manusia
Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-qur’an, (Q.S Yasin : 81-82).
5.     Qiyamuhu bi Nafsihi
Qiyamuhu bi Nafsihi berarti Allah berdiri sendiri. Allah tidak membutuhkan kepada tempat untuk berdiri, sebab : pertama, bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam ini, termasuk tempat adalah benda yang datang wujudnya setelah didahului oleh tiada. Sedangan Allah itu telah ada sebelum ada tempat tersebut. Kedua, bahwa yang membutuhkan kepaa tempat adalah sifat, seperti gerak, tetap , hitam, putih, dan semua benda yang tidak terbayangdalam pikiran manusia, adanya tanpa bertempat berdirinya. Sesuai dengan firman Allah (Q.S Al-ikhlas ).
6.     Al-Wahdaniyah
Yang berarti (Esa Allah) terdiri dari tiga hal. Pertama, zat Allah tidak tersusun dari dua komonem atau lebih. Hal ini dinamai Esa Allah pada zat-Nya, kedua, tiada terdapat dan tiada mungkin ada seseorang atau benda yang sama dengan Allah pada zat-Nya atau pada satu sifat diantara sifat-sifat yang wajib pada-Nya. Ketiga, tunggal Allah dalm menjadikan sesuatu benda dan menjadikan semua barang dalam alam ini dan Allah tunggal dalam menjadikan sesuatu dengan sempurna. Pekerjaan  Allah tidk membutuhkan peralatan dan tidak membutuhkan gerak atau tetap, tidak ada yan dapat memberikan bekas dan menghasilkan sesuatu dalam bentuk apapun kecuali Allah.
Dalam hal ini Allah berfirman ; (Q.S Al-Qamar :49), (Q.S Al-Baqarah : 107 ), dan (Q.S Ash-Shafat : 96).

7.     Al-Qudrah
Yang berarti berkuasa, Allah  yang berkuasa untuk menjadikan barang yang mungkin terjadi dan meniadakan barang yang telah ada, dan mungkin tiada lagi. Hal ini sesuai dengan firman Allah (Q.S Ash-Shafat : 96), (Q.S Ar-Rum : 22).
8.     Iradah
Adalah sifat yang menetapkan (menentukan) terjadi satu antara dua kemungkinan yang berlawanan .
9.     Al-Ilm
Adalah sifat Allah yang maha mengetahui segala sesuatu secara detail, Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi, masa kejadian, bentuk kejadian, jangka waktu terjadi, dan besar atau kecil nya sesuatu yang terjadi, Ilm Allah tidak sama dengan dengan ilmu manusia, perbedaanya antara lain:
·         Allah mengetahui segala sesuatu secara pasti
·         Ilmu Allah itu meliputi lahir dan batin
·         Allah mengetahui yang akan terjadi, dan yang telah terjadidalam tempat atau jaman tertentu. Dll

10. Al-hayah
Adalah Allah bersifat hidup, yang berrati Allah itu hidup dan tidak mati tidak sama dengan kehidupan dengan makhluknya, karena makhluk yang hidup sekarang pasti akan menjumpai yang namnya kematian, sedangkan Allah hidup untuk selama-lamanya yang tiada akhirnya.
11.As-Sama’
Yang berrati Allah maha mendengar, tidak sama dengan pendengaran manusia makhluk-Nya, perbedaanya :
·         Allah mendengar tiap-tiap yang ada, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara, sedangkan manusia hanya dapat mendengarkan yang bersuara, yang bukan suara tidak dapat didengar oleh manusia.
·         Pendengran Allah tidak dapat dihalangi oleh penghalangan apapun, sedangkan pendengaran manusia dapat dihalangi oleh kejauhan, keributan, dan besar kecilnya sumber suara tersebut, dan tidak dapat mendengar suara dalam keadaan tidak sadar.
·         Sifat mendengar Allah tidak bertempat pada suatu jaman, sebab sebelum jaman itu belum ada Allah sudah memilki pendengara-Nya. Sedangkan pendengeran manusia seiring dengan jaman.


12.Al-Bashr
Adalah Allah maha melihat pada suatu barang itu ada atau tidak,, besar atau kecil, dan sangat tersimpan/tersembunyi di suatu tempat tertentu sekalipun Allah tetap melihatnya, bahkan yang terlintas di dalam hati manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam (Q.S Ali-Imran : 5) dan (Q.S Al-An’am :103)
13.Al-Kalam
Yang berarti Allah berkata-kata/berbicara, kalam Allah tidak memiliki huruf dan tidak memiliki suara serta tidak ada yang terakhir. Kalam Allah tidak terpecah-pecah dalam huruf dan kalimat. Kalam Allah hanya satu dan tidak banyak, bentuk kalam Allah ada tiga makna, diantaranya “ Buku yang di dalamnya di tulis lafazh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW”. Ketiga makna tersebut disebut kalamullah dan Al-qur’an. Kalamullah (lafazh) ang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan ditulis dalam mushhaf Al-qur’an adalah lambang dari apa yang ditunjuk oleh kalam Allah.
14.Al-Qadirun
15.Al-muridun
16.Al-a’limun
17.Al-hayyun
18.As-sami’un
19.Al-bashirun
20. Al-mutakallimun          
Tujuh sifat terakhir yang di atas tersebut dinamai dengan sifat ma’nawiyah, sebab antara tujuh sifat sebelumnya berhubungan. Maka sifat ini dibangsakan kepada sebelumnya, yaitu tujuh sifat ma’ani.